-->

Tips cara menghadapi remaja yang keras kepala

Menghadapi anak remaja tentu tak sama dengan menghadapi anak kecil. Anak remaja cenderung kontradiktif dan sebagian senang menantang aturan. Mereka bertingkah keras kepala, seakan mereka tahu segala hal, meski nyatanya tak punya banyak pengalaman. Tak hanya itu, anak remaja sering kali juga merasa tak terkalahkan, tapi disaat bersamaan mereka juga merasa tak aman. Perilaku-perilaku tersebut tak jarang membuat Parents khawatir dan merasa sulit menghadapi anak remaja. Menjadi orang tua untuk anak remaja memang merupakan tantangan tersendiri bagi keadaan emosi Anda, tetapi tantangan yang baik. Studi menunjukkan bahwa orang tua dari anak remaja mengalami tingkat stres yang tinggi dan terjadi penurunan dalam kesehatan mentalnya. Namun, bukan berarti orang tua dari anak remaja tidak berdaya


Salah satu langkah pertama yang perlu dilakukan untuk menghadapi sikap keras kepala anak remaja adalah memahaminya sebagai seorang individu. Jadi, biarkan anak remaja melihat bahwa Parentsnya menghargai dirinya sebagai individu yang memiliki pemikiran, kepribadian, pendapat, dan minat yang berbeda dari orang lain. Berikut tips cara mengatasi remaja yang keras kepala:

1. Berkomunikasi secara Efektif dengan Anak remaja

Tunjukan sikap empatik dan seimbang
Coba letakkan diri Anda di posisinya, tetapi jangan ikuti keadaan emosinya yang naik dan turun. Selalu dekati situasi yang sulit dengan mencoba memahami perasaan anak Anda. Jika Anda tidak memedulikan keadaan emosinya, bisa-bisa dia merasa ditolak.

Empati itu bagus, tetapi "menjadi teperangkap" itu tidak. Anak Anda membutuhkan Anda sebagai panutan. Jangan biarkan emosinya atau emosi Anda menghalangi Anda untuk berpikir secara jernih dan bersikap secara bertanggung jawab.

Jangan menghakimi
Anak remaja Anda sedang melalui pengalaman-pengalaman baru untuk mengetahui identitasnya. Jangan cegah hal tersebut terjadi. Mungkin Anda tidak menyetujui aktivitas, gaya berpakaian, atau minat barunya, tetapi jangan sampai Anda mengkritiknya. Salah satu hal yang harus dilakukan dalam mendidik anak remaja adalah "belajar untuk tidak mengatur."

Dengan menerima eksperimen anak, Anda pun mengakui keadaannya sebagai sosok dewasa yang mandiri.

Ekspresiasikan rasa apresiasi Anda
Ketika anak remaja bersikap keras kepala, mudah bagi Anda untuk melupakan segala kebaikannya. Sikap positif bisa tidak diperhatikan karena memang sudah diharapkan. Dengan mengekspresikan rasa bersyukur atas sikapnya yang positif, Anda pun membuat anak menjadi lebih percaya diri dan terdorong untuk sering bersikap baik.

Jika Anda lebih sering memberikan perhatian negatif kepada anak Anda, bisa-bisa dia merasa bahwa dirinya selalu berbuat kesalahan. Jika Anda tidak menghiraukan tindakannya yang baik, bisa-bisa dia merasa bahwa dirinya tidak penting. Sebaiknya Anda memperhatikan saat anak Anda bersikap baik.

Teruslah membuka diri
Lumrah bagi anak untuk mulai jarang berbicara kepada orangtuanya saat mulai remaja.[9] Bukan berarti Anda tidak bisa mengobrol dengannya. Hanya saja artinya Anda tidak bisa menentukan kapan Anda bisa mengobrol dengannya.
Mungkin anak Anda ingin mengajak Anda bicara secara tak terduga atau saat dirinya sedang resah. Jangan menundanya.[10]Bisa jadi ini satu-satunya kesempatan bagi Anda untuk membahas apa yang membuatnya resah dan Anda ingin membuat anak tahu bahwa Anda selalu ada untuknya jika dia butuh bicara.

Buat dia menjadi guru
Jika Anda ingin menghubungkan diri dengan anak Anda tetapi minat kalian berbeda, minta anak untuk mengajarkan minat barunya kepada Anda. Dengan berbagi minat yang sama, jika suatu saat ada perdebatan atau diskusi di antara kalian, Anda pun bisa menghadapinya dengan lebih mudah.

Dengan memandang anak sebagai ahli, dia akan merasa dihormati dan cerdas. Ini merupakan kunci untuk membangun kemandirian yang sehat.

 

Tetapkan struktur keluarga dan waktu untuk keluarga
Walaupun anak Anda menginginkan kebebasan, penting untuk menjaga struktur keluarga yang menghubungkan dirinya dengan keluarga.
Terima pertemanan anak remaja Anda. Dengan demikian, Anda tidak hanya terhubung dengan anak Anda, tetapi juga bisa belajar siapa yang memengaruhinya. Libatkan teman-teman anak Anda dalam aktivitas keluarga.

Buat waktu untuk keluarga. Rutinitas seperti makan malam dan liburan keluarga bisa menghubungkan anak Anda dengan keluarga. Menjaga agar keluarga tetap dekat itu sehat, dan kemungkinan besar anak Anda akan menghargai hal ini walaupun mungkin dia tidak menunjukkannya.

2. Menetapkan Peraturan Dasar untuk Perilaku 

Klarifikasikan peraturan yang ada.
Seiring dengan pertumbuhan dan perubahan anak, peraturan pun juga harus berubah. Kebanyakan anak remaja mengharapkan kebebasan yang lebih besar, dan orang tua harus mengakomodir keinginannya itu dengan wajar. Menegosiasikan masalah seperti "hak kamar" itu mungkin sulit, tetapi hasilnya setimpal dengan usaha yang dikeluarkan.

Jangan biarkan anak Anda menerka-nerka. Anak Anda mungkin menduga-duga apakah dia masih memiliki jam malam, masih harus melakukan tugas rumah, dan lain-lain. Perjelas peraturan baru. Jika Anda tidak membahas bagaimana peraturan ini berubah dengan baik, bisa-bisa kalian menjadi bertengkar.

Jelaskan kepada anak kenapa apa arti dari peraturan itu dan kenapa ada peraturan. Walaupun anak Anda tidak setuju, penting baginya memahami bahwa peraturan ditetapkan dengan tidak semena-mena.

Tunggu dan ulangi
Rasanya frustrasi jika anak Anda tidak menghiraukan, tetapi jangan marah. Ulangi permintaan dengan tenang sampai dia mematuhinya. Jangan menyalahartikan kemalasan atau sikap lupanya sebagai tindakan untuk memberontak.

Latih kesabaran
Kemungkinan Anda tidak akan langsung mendapatkan hasilnya. Jika Anda terus bersikeras dan konsisten, kemungkinan Anda akan mendapatkan hasil yang diinginkan.
Cobalah latihan seperti yoga atau meditasi untuk membantu Anda rileks. Jika Anda sabar dan tenang, kemungkinan anak Anda akan menanggapi dengan cara yang sama.

Jangan lewatkan hal-hal yang berat
Saat anak menjadi remaja, saatnya untuk membahas isu-isu berat seperti narkoba dan seks. Jangan tunda percakapan ini hanya karena Anda merasa kikuk. Jika Anda belum pernah membahasnya dengan anak remaja Anda, sekarang saatnya. Membicarakan masalah seks merupakan hal alami dalam kehidupan. Be honest and nonjudgmental.

Studi menunjukkan bahwa remaja yang membahas masalah seks dengan orang tua kemungkinan besar menjadi bertanggung jawab dalam aktivitasnya. Pastikan Anda membahas penyakit kelamin menular, kontrasepsi, persetujuan masing-masing pihak, dan elemen-elemen emosional dari seks.

Narkoba dan alkohol harus dibahas dengan sensitivitas yang sama seperti seks. Coba tanyakan opini anak Anda tentang penggunaan narkoba dan alkohol. Beri tahukan apa pandangan Anda tentang hal ini, dan pikirkan seperti apa Anda akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai masa lalu atau masa kini Anda sehubung dengannya. Setelah itu, pastikan Anda membahas masalah dorongan dari teman, efek yang ditimbulkan kepada kesehatan, dan tindakan mengemudi dalam keadaan mabuk.

3. Mendisiplinkan Anak dengan Cara yang Benar
Lontarkan pertanyaan
Alih-alih bertanya kenapa anak Anda melanggar peraturan, lontarkan pertanyaan seperti, "Kenapa kamu melakukannya?" Anak Anda harus memikirkannya dengan saksama dan pada akhirnya menyadari kesalahannya tanpa Anda harus menjelaskan.

Tidak apa-apa jika anak Anda merasa bersalah. Jika anak Anda menyadari bahwa yang dilakukannya salah, emosi yang dirasakannya saat menyadarinya bisa menjadi hukuman yang lebih efektif ketimbang hukuman yang diberikan oleh orang tua.

Berikan konsekuensi jangka pendek
Hukuman yang setimpal yang berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari, tergantung dari kesalahannya, bisa memberi hasil yang efektif. Hukuman dengan durasi lebih lama sering kali memperbesar kemungkinan anak Anda membangkang. Tetapi jika anak Anda melihat hukuman ini berujung, kemungkinan dia bisa menerimanya.

Coba untuk bersikap rasional
Anak Anda harus memandang hukuman yang diberikan sebagai tanggapan yang masuk akal kepada tindakannya yang melanggar peraturan. Jika Anda membiarkan emosi Anda mendikte hukuman yang diberikan, kemungkinan anak Anda menganggap hukuman ini sebagai sesuatu yang sewenang-wenang dan kejam.

Jadilah contoh untuk anak Anda. Ajarkan cara konstruktif kepada anak Anda untuk menghadapi konflik sehingga dia memiliki acuan konstruktif untuk bersikap dalam hubungannya di masa depan.

Coba untuk spesifik
Saat menyampaikan kerisauan, pilihan kata-kata bisa sangat memengaruhi percakapan kalian.
Sampaikan dengan jelas kenapa Anda kesal. Kata-kata seperti "tidak bertanggung jawab" bisa membuat anak merasa diserang. Alih-alih, jabarkan pelanggaran yang dilakukannya dengan jelas.

Cobalah untuk menerapkan hukuman sampai habis
Jika Anda memberikan hukuman tetapi tidak meneruskannya, reputasi Anda di matanya pun rusak. Anak bisa berpikir dia tidak terkena masalah jika bersikap seperti itu dan malah semakin bertingkah.

Cobalah untuk konsisten
Saat Anda baru melalui hari yang panjang, Anda bisa tergoda untuk membiarkan anak Anda melanggar peraturan. Ingatlah bahwa jika anak merasa peraturan diterapkan secara sewenang-wenang, bisa-bisa dia tidak menganggapnya serius. Semoga bermanfaat

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel