-->

10 sifat Allah dalam Asmaul Husna beserta artinya

10 sifat Allah dalam Asmaul Husna beserta artinya
Sifat-sifat Allah, Sebagai hamba Allah SWT yang beriman kita harus mengerti sifat-sifat yang dimiliki oleh penciptanya. Ada sifat yang wajib dan ada pula sifat yang pantas untuk Allah Yang harus kita ketahui. Jumlah sifat wajib dan sifat yang disetujui yang harus kita ketahui ada 20 (dua puluh). Berikut ini adalah 10 sifat yang wajib dari 20 sifat yang diminta serta satu sifat Jaiz untuk Allah SWT. adalah:

1. Wujud> <A'dam
2. Qidam
3. Baqa '
4. Mukhallafatu> <Hudus> <Fana'> <Mumatsalatu lil hawaditsi lilhawaditsi
5. Qiyamuhu Binafsihi
6. Wahdaniyah
7. Qudrat><Ikhtiaju lil ghairi>< Ta'adud <Ajzun
8. Iradat> <Karahah> <Jahlun
9. 'Ilmu> <Mautun
10. Hayat> <Shamamun

Sifat Yang berarti Allah berhak membuat sesuatu yang pantas dan berhak menerima sesuatu tersebut. Penjelasan tentang sifat-sifat Allah akan dibahas di bawah ini.

1. Sifat Wujud
Sifat wujud ini dapat dilihat dari segi bahasanya mempublikasikan inii makna "ada". " ada "antara Allah dengan penciptaan adalah yang lain. Adanya koleksi termasuk diri kita sendiri karena ada yang menciptakan. Sementara yang mendorong" ada "untuk Allah ada, tetapi tidak ada yang menciptakan.

Kita telah menyelesaikan di mana kita sendiri alam ini tidak ada yang menciptakan. sedangkan allah swt yang telah menciptakan kita dan semua penciptaan di dunia ini karena hal ini merupakan kebenaran nyata aksioma tidak dapat ditolak lagi. yang Lain halnya dengan semua yang ada di alam ini dan semua yang ada, ada wujud Dzat Allah tidak memiliki alasan.

Tapi seluruh alam dan semua ini adalah sesuatu yang baru (hudus). Jadi yang bisa disampaikan seluruh alam dan semua yang diciptakan ini adalah yang baru karena yang diciptakan, yaitu Allah SWT. Dari penjelasan tersebut kita diberikan untuk menerima bahwa sifat wujud hanya dimiliki oleh Allah SWT. Bukan hanya orang islam saja yang wajib dipercayai dalam membahas sifat wujudnya Allah SWT. Tapi sebenarnya orang-orang kafir juga percaya akan keberadaan Allah.
Firman Allah SWT dalam Al Qur'an sebagai berikut:

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah." Katakanlah: "Segala puji bagi Allah"; Tapi sebenarnya mereka tidak mengetahui. (QS. Luqman 25)

Jika kita melihat ayat ini maka kita dapat mempercayai orang-orang kafir juga mengakui keberadaan Tuhan.
Mengakui mereka berbeda dengan pengakuan kita. Menurut mereka dapat digambarkan dan dilambangkan dalam berbagai bentuk, antara lain digambarkan dalam bentuk patung, ular, gajah, bulan, bintang dan sebagainya. Sedangkan
menurut kita Tuhan tidak akan sama dan tidak akan terlihat dengan segala sesuatu. Jadi keyakinan seperti ini merupakan keyakinan yang sesat dan syirik. Namun, mereka mengakui sebagai Tuhan.

Baca juga:Manfaat dzikir Asmaul Husna untuk kehidupan sehari-hari

Tetapi pengakuan mereka tidak sah dan
Nanti mereka akan mereka mati dalam kekufuran dan pergi tempat yang abadi. Sebenarnya akal manusia tidak akan menerima jika ada yang menghargai Allah SWT. itu berbahaya A'dam (tidak ada). Akal akan dapat menerima orang yang mengatakan itu Allah wujud. Hakikatnya, keberadaan Allah itu wajib hukumnya. Dan kita harus meyakini keberadaan Dzat Allah. Jangan sampai kita tergelincir, karena ditolak tergelincir oleh salah satu alasan, maka tergelincirlah aqidah kita dan kita akan menjadi orang yang sesat. Kita menerima orang-orang kafir yang atheis, pada saat mereka tertimpa musibah atau mereka yang menderita sakit yang tidak juga pulih maka mereka akan berdoa untuk kesembuhannya karena dia tidak langsung memanggil nama Tuhan.

Mereka tetap mempertahankan keberadaan Dzat yang memiliki kekuasaan. Namun, meminta mereka dikabulkan maka mereka tetap kafir dan perlu lagi membutuhkan Dzat itu. Dalam hati nurani manusia sebenarnya tetap mengakui Tuhan. Karena ada orang yang tidak mengakui Tuhan karena membenci agama, misalnya membenci Islam atau Kristen karena sesuatu sebab. Mempunyai rasa berketuhanan merupakan salah satu sifat fitrah yang dimiliki oleh manusia. Akan tetapi untuk mengenal Tuhan tidak diizinkan dengan cara berkhayal seperti yang dilakukan oleh orang-orang kafir.
Sifat 'adam adalah sifat istimewa bagi Allah. Sifat 'adam merupakan lawan dari sifat wujud. Adam berarti tidak ada. Karena ada yang menciptakan dan alam semesta ini pasti ada yang menciptakan. Allahlah yang menciptakannya. Jika Allah tidak ada maka tidak akan ada penciptaan dan alam semesta ini.

 2. Sifat Qidam
Yang dimaksud Al Qidam dilihat dari segi bahasanya berarti Dahulu. Wujud Allah tidak ada yang mendahului dan tidak ada permulaannya. Karena Allah memiliki sifat Qidam maka jadilah Dia Qadim (Dahulu ada). Di dalam ilmu tauhid ada satu kata yang sama maknanya dengan Qadim adalah Azali. Dari sebagian ulama ada yang mengatakan antara Qadim dan Azali itu berbeda, sebagian besar ulama yang lain berdebat tentang istilah yang dimaksud dengan sama. Sebagian ulama ada yang mengatakan berbeda karena Qadim bermakna khas (khusus) dan Azali bermakna 'am (umum). Azali adalah sesuatu yang 'umum' dan berbicara dengan yang maujud dan juga ghairu maujud. Sementara Qadim merupakan sesuatu yang tidak ada permulaan tetapi yang meminta dengan yang ada dan tidak mendukung dengan sesuatu yang ghairu maujud (tidak ada). Maka disini dapat terlihat bahwa qadim pasti azali tetapi azali belum tentu qadim. Dari segi namanya istilah Qadim dapat dibagi menjadi sifat- sifat Qadim berikut ini:

1. Qadim Sifati (tidak ada permulaan untuk sifat Allah)
2. Qadim Dzati (tidak pemulaan dzat Allah)
3. Qadim Idhafi (lebih dulu mencari sumber seperti bapak atas )
4. Qadim Zamani (masa lalu atas sesuatu sekurang-pendeknya)

Qodim yang dapat digunakan menjadi Qadim Haqiqi yaitu Qadim Sifati dan Qadim Dzati. Sedangkan qadim kedua yang lain yaitu Qadim Idhafi dan Qadim Zamani bukan sifat Haqiqi bagi Allah. Karena kedua sifat ini masih melekat pada makhluk seperti manusia, tumbuh-tumbuh dan hewan. Antara qadimNya Allah SWT dengan qadimnya, koleksi tidak boleh disamakan. Karena sifat qadimNya Allah SWT memiliki pengertian 'dulu' dan tidak berawal. Sementara sifat qadimnya merupakan sesuatu yang enak dan baru. Hudus merupakan sifat yang disukai Allah SWT dan sifat yang diambil dari qidam. Dari segi bahasa, sifat hudus memiliki arti baru. Allah berbeda dengan penciptaan karena Allah SWT adalah Khaliq. Sementara sifat hudus merupakan sifat yang dimiliki oleh gabungan.

3. Sifat baqa 
'Dari segi bahasa Al Baqa' artinya kekal. Karena Allah memiliki sifat Baqa 'maka Allah senantiasa kekal dan ada. Kekalnya Allah adalah kekal yang haqiqi adalah kekal yang sebenar-benarnya, karena Allah tidak menciptakan dan Allah juga tidak akan membangun, mengaktifkan, dan memusnahkan. Disamping itu Baqa 'pada Allah SWT tidak ada akhir atau kesudahannya.
Sifat kekal ini juga ada yang properti tetapi tidak ada yang punya sifat qidam. Diantaranya: arsy, roh, kalam, luh mahfudz,
surga, neraka, ajbuzzanab (tulang kecil berjumlah biji sawi yang berada di sulbi manusia, merupakan benih anak manusia. . Dzat-dzat tersebut memiliki kekekalan yang aradhi, bukan kekekalan haqiqi. Kita harus bisa membedakan sifat kekal Allah SWT dengan sifat kekalnya surga, neraka, dan lain-lain. Jadi sifat-sifat Allah SWT saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya. Sifat-sifat kekekalan ini dapat dibagi untuk menemukan perbedaannya, yaitu:

a. Ada permulaan dan ada kesudahan yaitu
Semua mahkluk yang ada selain dari contoh sepuluh di atas
b. Tidak ada permulaan dan tidak ada kesudahan ialah zat dan sifat Allah SWT.
c. Ada permulaan tetapi tiada kesudahan yaitu surga, neraka, arsy, dan lain sebagainya seperti yang telah disebutkan di atas

Fana merupakan sifat menantang dari sifat baqa '. Yang bertanggung jawab dengan sifat fana adalah rusak. Allah SWT berbeda dengan koleksiNya, jika koleksi akan mati dan rusak, sedangkan Allah SWT tidak akan hancur dan musnah.

 4. Sifat Mukhallafatu Lilhawaditsi
Pengertian dari sifat yang ke-4 ini yaitu Mukhallafatu Lilhawaditsi berbeda dengan pengaruh. Jadi Allah SWT. tidak mungkin sama dengan koleksi atau sesuatu yang memiliki sifat baru Perbedaan antara Dzat Allah SWT dengan makhluk itu tidak hanya berbeda pada segi DzatNya, tetapi juga berbeda dari segi sifat serta perbuatanNya pula. Jika dilihat dari DzatNya, Allah tidak berjisim (berjasad), sedangkan pada makhluk ada jasadnya. Jasad yaitu zat yang mempunyai ruang dan bentuk. Yang merupakan (mempunyai) jasad yaitu diri kita (manusia), kamar, air, meja dan lain sebagainya. Berbeda halnya dengan Dzat Allah yang tidak berjisim maka Allah SWT sama sekali tidak membutuhkan ruang atau bentuk. Suatu saat kita pernah bertanya-tanya tentang bagaimana bentuk dari Dzat Allah SWT, Wallaahu a'lam. Pikiran manusia tidak akan mampu menjangkau tentang hal tersebut. Menurut ilmu tauhid kewajiban kita hanyalah untuk mempercayai dan meyakini tentang adanya Dzat Allah SWT. Dan jangan biarkan pikiran-pikiran kita membayangkan tentang hal-hal yang berhubungan dengan bentuk Allah. Karena sesungguhnya menurut syara' (agama) melarang hal-hal tersebut. Dzat Allah juga bukan aradhi, maksudnya Dzat Allah SWT. bukan merupakan sifat. Sifat tidak boleh berdiri di atas sifat. Seperti halnya sifat wajib Allah SWT yang 20 tersebut tentu tidak boleh berdiri pada sifat. Yang benar adalah sifat-sifat Allah itu berdiri di atas Dzat. Sedangkan Dzat Allah itu tetap Dzat bukan sifat atau aradhi. Jika kita mempunyai keyakinan bahwa Dzat Allah itu sifat atau aradhi maka dengan sendirinya kita akan mengesampingkan semua sifat-sifat Allah yang ada. Mumatsalatu lil hawaditsi merupakan sifat mustahil (lawan) dari sifat Mukhallafatul lilhawaditsi. Arti dari mumatsalatu lil hawaditsi adalah bahwa Allah SWT. sama dengan dengan makhluk. Padahal Allah SWT tidak akan sama dengan makhlukNya. Jika ada orang yang mempunyai keyakinan bahwa Allah SWT itu serupa dengan makhluk, baik sama dalam DzatNya, sifatNya, atau perbuatanNya, maka orang tersebut dapat digolongkan menjadi orang yang musyrik. Dan dosa orang musyrik tidak akan diampuni, maka jauhilah sifat tersebut. Salah satu gambaran keimanan seseorang dapat dilihat dari keyakinan akan Dzat Allah SWT ini. Seperti telah ditegaskan dalam ayat Al Qur'an berikut:


Sesungguhnya orang-orang yang beriman (orang yang sem- purna imannya) ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al Anfal 2)

5. Sifat Qiyamuhu Binafsihi Sifat Qiyamuhu binafsihi 
jika dilihar dari arti bahasanya adalah berdiri sendiri. Allah SWT tidak akan membutuhkan dan tidak akan memerlukan apa pun. Karena Allah SWT. mempunyai sifat dahulu, jadi tidak ada yang menjadikannya dan tidak perlu ada yang menjadikan. Apabila Allah SWT dijadikan menjadi yang baru, berarti Allah SWT itu bukanlah Tuhan. Sebah sesuatu yang bisa diciptakan bukanlah Tuhan. Allah SWT tidat memerlukan sesuatu karena Allah Maha Kaya dan juga tidak memerlukan sesuatu untuk kekayaanNya. Allah SWT tidak memerlukan perintah atau larangan. Yang memerlukan dan membutuhkan perintah serta larangan tersebut adalah makhluk.

Allah SWT. yang membuat peraturan berupa perintah dan larangan kepada makhluk. Semua paraturan tersebut dibuat untuk manusia agar selamat baik di dunia dan di akhirat nantinya. Allah SWT tidak akan mendapatkan manfaat dari semua peraturan yang diciptakan kepada manusia, dan memang Allah SWT. tidak membutuhkan manfaat apapun dari peraturan tersebut. Jika semua manusia mentaati perintahNya atau melanggar semua laranganNya maka Allah tidak akan untung atau rugi. Tetapi manusia itu sendiri yang sebenarnya akan mendapatkan untung atau rugi.

Pada dasarnya semua peraturan yang dibuat Allah SWT. untuk manusia itu adalah kelebihan dan rahmat serta kasih sa- yang Allah kepada hambaNya. Kasih sayang Allah SWT. tidak ada bandingannya. Dalam hadits qudsinya Rasulullah saw bersabda bahwa Allah SWT. berfirman : "Aku lebih sayang hambaKu melebihi seorang ibu sayang kepada anaknya." Allah SWT. berfirman dalam Al Qur'an:


Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nahl 18) Ikhtiaju lil ghairi adalah sifat mustahil dari qiyamuhu bìnafsihi, yang artinya membutuhkan makhluk. Padahal dari semua keterangan di atas sudah jelas bahwa yang membutuhkan sesuatu bukanlah Allah SWT sebagai khaliq tetapi yang membutuhkan adalah manusia sebagai makhluk

6. Sifat Wahdaniyah 
Dilihat dari segi tata bahasa Wahdaniyah berarti Esa atau tunggal. Dan Allah Esa pada sifat dan DzatNya. Yang dimaksud dengan tunggal disini bukanlah satu (dalam bilangan). Karena satu dalam suatu bilangan berarti masih mempunyai kelanjutan yaitu dua, tiga, empat dan seterusnya. Sedangkan tunggal (bagi Allah) mempunyai makna tersendiri. Pendapat para ulama tauhid mengatakan hal tersebut berdasarkan firman di dalam Al Qur'an berikut ini. Allah SWT. berfirman : 


Katakanlah olehmu (Muhammad), bahwa Allah itu Esa. (QS. Al Ikhlas 1) Pengertian Esa dalam hal ini luas sekali dan lebih menyeluruh. Di antaranya:

a. Allah itu tunggal/Esa pada DzatNya, 
b. Allah itu tunggal pada SifatNya, dan 
c. Allah itu tunggal pada PerbuatanNya.

 Menurut pengertian-pengertian di atas yang dimaksud dengan tunggal yaitu tidak bercerai berarti dan tidak berhubung Dengan kata lain. Dzat Allah itu bukan terdiri dari susunan- susunan tertentu. Allah SWT. bukanlah terbentuk dari susunan semisal daging, tulang, pembuluh darah, dan kulit. Tetapi Allah itu Dzat yang satu, yang Esa. Para ulama berpendapat demikian. Dalam Al Qur'an surat Al Ikhlas telah diterangkan bahwa Allah SWT tidak beranak dan juga tidak diperanakkan. Allah SWT tidak mempunyai sekutu. Allah SWT juga tidak memiliki sifat trinity (tiga) seperti yang diajarkan oleh orang-orang beragama Nasrani. Jika Tuhan lebih dari satu maka dunia dan alam semesta ini akan kacau dan berantakan, bahkan hancur karena masing-masing pasti mempunyai kehendak yang berbeda. Allah SWT. berfirman dalam AI Qur'an:


Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam, itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimatNya yang di sampaikanNya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) Roh dariNya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasulNya dan janganlah kamu mengatakan, "(Tuhan itu) Tiga, "berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang maha Esa, maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaanNya. Cukuplah Allah sebagai pemelihara. (QS. An Nisa' 171)

Dari ayat tersebut di atas dijelaskan bahwa Nabi Isa as itu bukanlah Tuhan, sebagaimana yang dikatakan orang-orang Nasrani. Nabi Isa itu hanya seorang utusan. Sebenarnya Agama yang dibawa Nabi Isa (Yesus versi Kristen) adalah agama samawi yang menyatakan bahwa Allahlah yang patut disembah dan tidak boleh dipersekutukan (Allah itu satu). Dalam ajaran Yesus menyatakan bahwa Tuhan itu ada satu (terdapat di Markus 12: 29) dan sesuai dengan ajaran dari Rasulullah Muhammad saw. kepada kita. Juga dijelaskan bahwa Allah SWT. mempunyai Esa pada sifatNya. Yang dimaksud Esa pada sifatNya yaitu bahwa tiap- trap satu sifat Allah itu adalah Esa. Misalnya, Allah SWT. itu
Esa pada WujudNya. Qidamnya Allah itu Esa, Qudratnya Allah juga Esa dan sifat-sifat Allah yang lainnya juga Esa. Kita hendaknya berhati-hati tentang persoalan aqidah. Jangan sampai kita terjebak kepada kemusyrikan. Karena kemusyrikan itu tidak hanya sebatas menyembah patung, memuja berhala dan datang ke ahli nujum (dukun), tetapi banyak sekali sifat yang mengarah kemusyrikan tersebut. Allah SWT berfirman di dalam Al Qur'an:


Sesungguhnya Allah SWT. tidak akan mengampuni đosa syirik (menyekutukan Allah) tetapi Allah mengampuni dosa selain syirik bagi mereka yang Allah kehendaki. Dan barangsiapa yang menyekutukan Allah maka sesungguhnya mereka melakukan dosa besar. (Qs. An Nisa' 48)

Sifat Wahdaniyah juga mempunyai sifat mustahil atau sifat yang tidak mungkin dimiliki oleh Allah SWT sebagai Tuhan. Sifat mustahil itu adalah ta'addud yang artinya lebih dari satu. Telah dijelaskan di atas bahwa Allah SWT tidak mempunyai sekutu dan tidak mungkin Allah lebih dari satu. Orang yang menyekutukan Allah disebut musyrik, dan sangat besar dosanya. Untuk itu jauhilah sifat ini.
Rasulullah saw. telah memberikan peringatan kepada kita di dalam sebuah hadist yang artinya: Bahwasanya di saat kiamat akan datang dan akan terjadi kabut hitam seperti gelapnya suasana di malam hari, di waktu itu seseorang akan beriman di waktu pagi dan menjadi kufur di waktu petang, yang beriman di waktu petang akan menjadi kufur di waktu pagi. Ia menjual agamanya dengan nilai-nilai dunia yang sangat sedikit. (HR. At Turmizi)

7. Sifat Qudrat
Dilihat dari segi tata bahasanya Al Qudrah mempunyai arti kuasa atau daya upaya atau mampu. Allah SWT berkuasa atas apa saja yang dikehendakinya. Allah SWT berkuasa untuk men- jadikan makhlukNya kaya atau miskin, berkuasa untuk memu- liakan atau menghinakan, dan juga berkuasa untuk menghidupkan atau mematikan makhlukNya. Allah SWT mempunyai kuasa atas semuanya tidak ada yang dapat menghalangi atas kekuasaan Allah SWT. Allah SWT. berfirman di dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 20 berikut ini:

Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Baqarah ayat 20)
Allah SWT. telah menetapkan sifat Qudrat, kuasa untuk melakukan segala sesuatu yang dikehendakiNya, sebagaimana Dia menafikan dari dirinya sifat 'ajz (lemah) dan lughub (letih). Allah SWT. juga berfirman dalam Al Qur'an pada ayat yang lain:


Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka, sedang- kan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (QS. Fathir 44)

Sifat mustahil atau lawan dari sifat Qudrat adalah Ajzun yang artinya lemah. Allah SWT tidak mungkin mempunyai sifat lemah atau ada yang melemahkan karena Allah SWT. memiliki sifat qudrat yang mutlak dan sempurna. Yang mempunyai sifat lemah adalah manusia sebagai makhluk. Allah SWT. berfirman di dalam Al Qur'an:


Sesungguhnya keadaanNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. (QS. Yasin 82)

8. Sifat Iradah 
Sifat Al Iradah menurut arti bahasanya yaitu berkehendak. Hal-hal tentang iradah banyak dijumpai dalam berbagai ayat Al Qur'an. Allah SWT. menegaskan bahwa diriNya mempunyai Iradah terhadap makhluk, diantaranya manusia, hewan atau tumbuhan. Diterangkan juga di dalam Al Qur'an yaitu pada surat Al Baqarah ayat 90, bahwa Allah SWT mempunyai kehendak untuk menurunkan kemuliaanNya kepada hambaNya. Jadi, semua perbuatan yang dilakukan manusia adalah atas kehendakNya. Kejadian alam semesta ini semata-mata karena kehendak Allah SWT. Apa yang dikehendaki Allah SWT. pasti akan terjadi.
Apabila tidak dikehendaki, pasti tidak akan pernah terjadi. Hal itu merupakan tauhid secara umum yang tak mungkin berdiri sendiri kecuali berdasarkan IradahNya. Sebagai orang Islam dan beriman pasti sepakat bahwa sesuatu yang ada di dunia ini terjadi karena Allah SWT yang menghendakinya. Allah SWT. yang menentukan segala sesuatu menjadi mungkin atau menjadi tidak mungkin, hal ini karena Allah SWT mempunyai sifat Iradah (menghendaki). Allah SWT. berfirman di dalam Al Qur'an:



Sesungguhnya Allah Memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih ke dalam surga-surgo yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Al Hajj 14) Pada Al Qur'an surat yang lainnya juga menerangkan tentang sifat Iradah Allah ini, yaitu:


Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan di- bacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesunggulhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakiNya. (QS. Al Maidah 1)

Dari ayat tersebut di atas sudah ditetapkan bahwa sifat iradah merupakan sifat yang dimiliki oleh Allah SWT. Pernyataan tersebut telah banyak dijelaskan di dalam Al Qur' Sunnah. Tetapi ada juga sebagian orang yang menentang tentang sifat Iradah bagi Allah karena mereka menyatakan, bahwa di alam ini terdapat sesuatu yang bukan menjadi kehendak Allah SWT. Dan memang Allah tidak menghendaki sesuatu itu terjadi. Pendapat tersebut di atas sangatlah ditentang oleh para rasul beserta pengikutnya. Yaitu pendapat mereka yang tidak mengakui adanya kehendak dan pilihan Allah SWT ketika menciptakan makhluk. Dan orang-orang yang menafikan kehendak Allah SWT tersebut merupakan dari golongan orang-orang kafir. Semua orang kafir menyatakan bahwa Al Qur'an dan A hadits penuh dengan cerita kebohongan. Orang-orang yang mempunyai pendapat demikian telah digambarkan di dalam AL Qur'an seperti berikut ini.


Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakanınya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. Al An'am I12)

Allah berfirman dalam Al Qur'an yang disebutkan pada surat Hud ayat 118 yang artinya:
Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia ini unat yang satu, tetapi mereka senantiasa berseiisih pendapat. (QS. Hud 118)

sebagian orang yaitu dari para Ahlus Sunnah Wal Jamaah (pengikut ajaran yang berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah) berpendapat bahwa Iradah dibagi menjadi:

a. Iradah Kauniyah,
adalah Iradah yang menjadi persamaan dari masyi'ah (kehendak Allah) . Sebenarnya tidak ada beda- nya antara masyi'ah dan iradah kauniyah. Disebutkan dalam Al Qur'an:


Barangsiapa yang Allah SWT, menghendaki dan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatan, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit. (QS. Al An'am: 125)

b. Iradah Syar'iyah.
Dijelaskan dalam Al Qur'an yaitu sebagai berikut:


(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai pe- yang tunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau
dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (baginya puasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al Baqarah 185)

Kedua Iradah tersebut mempunyai perbedaan yaitu:
1. Iradah kauniyah terdiri dari yang baik dan yang jelek, yang bermanfaat dan yang berbahaya bahkan meliputi segala sesuatu. Sedangkan iradah syar'iyah hanya meliputi yang baik dan yang bermanfaat saja.
2. Iradah kauniyah pasti terjadi, sedangkan iradah syar'iyah belum tentu terjadi, bisa terjadi bisa tidak.
3. Iradah kauniyah tidak mengharuskan mahabbah (cinta Allah. Terkadang Allah SWT menghendaki terjadinya sesuatu yang tidak dicintai makhluk, tetapi dari hal tersebut akan lahir sesuatu yang dicintai Allah. Seperti penciptaan iblis dar segala yang jahat lainnva untuk ujian dan cobaan. Adapur iradah syar' iyah maka di antara konsekuensinya adalal mahabbah Allah, karena Allah tidak menginginkan dengan nya kecuali sesuatu yang dicintaiNya, seperti taat dan pahala

Karahah merupakan sifat mustahil dari sifat Iradah yan menurut tata bahasa mempunyai arti terpaksa. Tidak mungki atau mustahil Allah SWT. menciptakan sesuatu karena dipaks dan terpaksa. Karena hal itu mempunyai arti bahwa Allah ad yang memerintah, padahal Allah Maha Esa dan Maha Kuasa.

9. Sifat Ilmu 
Yang dimaksud dengan Al Ilmu yaitu mengetahui. Jac Allah Maha Mengetahui tentang segala sesuatu. Beberapa firma Allah di dalam Al Qur' an disebutkan:


Dia-lah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Yang menge- tahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hasr 22)


Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi, dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. (OS. AI Hujurat 18)

Yang dimaksud dengan ghaib dari ayat di atas adalah sesuatu yang tidak diketahui oleh manusia, tetapi Allah mengetahuinya. Seperti telah diterangkan di dalam Al Qur'an surat Al Imran berikut ini:

Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersem- bunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (QS. Al Imran 5)

Dalam suatu perkara yang dianggap tidak ada selesainya dan tak berkesudahan, Allah SWT dapat mengetahui penyelesaian akhirnya. Karena Allah mempunyai pengetahuan pada setiap perkara baik yang terperinci maupun menyeluruh. Itulah limu Allah yang sangat tidak terbatas.
Yang menciptakan ilmu adalah Allah SWT sendiri. Setelah itu Allah memberikan sedikit ilmunya kepada makhluk yang dikehendakiNya, diantaranya adalah manusia. Apabila ada seseorang yang mempunyai ilmu, berarti Allah SWT berkehendak kepada makhluk tersebut untuk memberikan ilmuNya.
Allah akan murka pada makhlukNya yang tidak mau mengamalkan dan memanfaatkan ilmunya pada orang lain.

Sangatlah dzalim dan tidak tahu diri jika ada seseorang yang memiliki ilmu atau pengetahuan tetapi tidak dapat memanfaatkannya sesuai harapan Allah SWT. Untuk itu bagi orang yang telah diberikan ilmu tetapi tidak dipergunakan dalam kebaikan berarti orang tersebut amatlah sombong. Allah SWT. yang memiliki semua ilmu yang ada di bumi ini dan diberikan kepada manusia.
Ilmu yang kita miliki tidak akan mampu menandingi ilmu yang dimiliki Allah SWT ilmu manusia sangatlah kecil sekali. Sebagai contoh yaitu mulai dahulu hingga sekarang orang-orang penasaran kepada roh. Mereka melakukan penelitian dengan berbagai cara, bahkan sampai menggunakan teknologi yang sangat canggih. Tetapi manusia tidak akan mampu mengungkap misteri dan keajaiban dari roh. Karena Allah SWT sendiri telah berfirman bahwa soal roh adalah urusan Allah dan manusia hanya diberikan pengetahuan yang sangat sedikit.
Allah SWT. berfirman dalam AI Qur'an:


Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasSuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. " (QS. Al Isra' 85)

Kepandaian dan ilmu yang kita miliki tidak boleh mengalahkan iman kita kepada Allah SWT. Sebab ilmu (logika) yang mengalahkan keimanan, maka semuanya akan dilogikakan. Padahal ada sisi lain yang tidak dapat dijabarkan secara logika sesuai nalar kita.
Sifat mustahil atau kebalikan dari ilmu adalah jahlun yang mempunyai arti bodoh. Allah SWT tidak mungkin mempunyai sifat bodoh. Allah SWT sebagai khaliq tentunya mempunyai ilmu dan kepandaian yang lebih dari makhlukNya.

10. Sifat Hayat
Yang dimaksud Al Hayat adalah hidup. Tetapi HidupNya Allah dengan hidupnya makhluk tidak sama. HidupNya Allah SWT yaitu hidup yang tidak memerlukan nafas. Sedangkan hidup bagi makhluk selalu memerlukan nafas. Hidup Allah SWT tidak butuh unsur-unsur seperti roh, air, api atau angin. Allah SWT juga tidak memerlukan makan dan minum. Tetapi makan dan minum diperlukan makhluk untuk keperluan hidupnya. Makhluk disebut sebagai sesuatu yang baru karena mereka diciptakan sedangkan Allah SWT tidak ada yang menciptakan. Apabila Allah SWT hidup bergantung pada makanan, minum, napas, nyawa dan unsur-unsur lainnya, maka Allah SWT termasuk sesuatu yang baru. Jika Allah SWT baru, artinya Allah SWT juga mempunyai sifat yang baru. Sesuatu yang baru itu pasti ada yang menciptakan. Jadi siapakah yang menciptakan Allah SWT? Jawabannya yang benar adalah Allah SWT tidak ada yang menciptakan dan hidupnya Allah SWT adalah hidup yang tidak bergantung kepada sesuatu apapun. Sifat Hayat yang dimiliki oleh Allah SWT. dapat dijadikan syarat pada hukum akal bagi segala sifat ma'ani. Dari 20 sifat Allah SWT yang kita pelajari ini dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu:

1. Sifat nafsiah 
yaitu sifat yang disamakan dengan diri atau Dzat. Sifat ini hanya terdiri dari satu yaitu Wujud.
2. Sifat ma'ani
yaitu yang kita katakan sebagai sifat idrak yaitu qudrat, iradah, ilmu, hayat, sama', basbar, dan kalam.
3. Sifat Ma'nawiyah
Sifat ma'nawiyah adalah kaunuhu qadiran, kaunuhu muridan, kaunuhu aliman, kaunuhu hayan, kaunuhu samian, kaunuhu basiran dan kaunuhu mutakalliman.
4. Sifat Salbiyah
Yang  termasuk sifat salbiyah diantaranya qidam, baqa', mukhallafatu lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi, dan wahda- niyah.

Segala sifat ma'ani disahkan oleh segala sifat Hayat bagi Allah SWT. Apabila Allah SWT tidak mempunyai sifat Hayat, maka tentulah tidak ada sifat ma'ani. Berarti sifat hayat penggantungan dari sifat ma'ani. Misalnya bila ada orang yang mati, maka penglihatannya, pendengarannya, kekuatannya, ke- hendaknya serta kata-katanya dan ilmunya, semuanya akan tamat dan akan berakhir.
Sifat mustahil atau lawan dari sifat Hayat yaitu mautun yang mempunyai arti mati. Sangatlah tidak mungkin Allah SWT mati. Walaupun tidak makan, minum, dan bernafas, Allah SWT tetap mempunyai sifat hayat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1


lihat juga: info menarik

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel


lihat juga: webdonlot